03 September 2009

Polres Serahkan Tersangka Porprov Ke Kejari (Tribun Kaltim)
Jumat, 21 Agustus 2009 | 22:26 WITA

TENGGARONG, JUM'AT - Proses penyidikaan kasus dugaan korupsi dana Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2006 memasuki penyerahan tahap II dari penyidik Polres Kutai Kartanegara (Kukar) ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tenggarong. Proses penyerahan tahap II rencananya akan dilakukan pekan depan.

"Berkasnya sudah P21. Pekan depan akan kami lakukan penyerahan tahap II," kata Kapolres Kukar AKBP Dono Indarto melalui Kasat Reskrim AKP Arif Budiman, Jumat (21/8). Pada penyerahan tahap II, aparat kepolisian akan menyerahkan para tersangka beserta barang buktinya ke JPU Kejari Tenggarong. Sementara, pada penyerahan tahap I, Polres Kukar menyerahkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) untuk diperiksa kelengkapannya oleh JPU.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam kasus ini, ada empat orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Keempat orang itu memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tersangka pertama berinisial RO. Ia berperan sebagai koordinator mutasi atlet.

Kemudian Sy sebagai ketua Pengcabor Wushu. Srp sebagai pengelola dana mutasi atlet karate dan ZR sebagai ketua Pengcab Olahraga Basket. Kemudian, dari perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), perbuatan para tersangka menimbulkan kerugian negara hampir mencapai Rp 7 miliar.

“RO diduga merugikan negara Rp 6 miliar lebih, Sy Rp 420 juta, ZR dan Srp sama-sama Rp 250 juta. Total kerugian negara mencapai Rp 6,9 miliar,” kata Kepala Seksi (Kasi) Kejari Tenggarong Ahmad Muhdhor. Berdasarkan hasil penyidikan Polres Kukar, keempat pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kukar itu disinyalir melakukan penyelewengan pada sejumlah item kegiatan porprov.

Dugaan penyelewengan itu meliputi mutasi atlet, pengadaan alat cabang olahraga (cabor), upah atlet, wasit dan ofisial, sewa tempat, konsumsi panitia pelaksana, mutasi atlet wushu, mutasi atlet taekwondo, mutasi atlet kempo, mutasi atlet tembak hingga latihan terpadu.

“Berdasarkan penyidikan kepolisian, ada sejumlah pembayaran atlet mutasi yang tidak sepenuhnya dibayarkan,” kata Muhdhor. Di berkas itu, tambahnya, menjelaskan kalau sejumlah atlet mutasi rata-rata dimintai tanda tangan penerimaan di kuitansi kosong dan pembayarannya dilakukan belakangan. Atlet terpaksa menandatangani kuitansi kosong itu. Sebab, kalau tidak mau, tidak akan mendapatkan bayaran sama sekali. Sedangkan modus lainnya adalah menunjuk secara langsung rekanan untuk pengadaan peralatan cabor.

Penyidik telah mengamankan barang bukti berupa kuitansi, tanda terima, surat pernyataan, memo, berkas proposal, berkas cabor Perbakin, Copy SK (Surat Keputusan) Ketua Pengda Perbakin, berkas cabor kempo, taekwondo dan masih banyak yang lainnya. (reo)

Tidak ada komentar: