06 November 2009
Buka Enam Kelas untuk 100 Atlet
Tahun ajaran 2010/2011 Sekolah Menengah Khusus Olahraga Terpadu Negeri berstandar internasional akan menerima siswa baru. Sekolah yang akan membina atlet pelajar tingkat SMP dan SMA ini tetap akan menggunakan kurikulum pendidikan umum. Namun, porsi belajar dan latihan akan dibuat seimbang.
BERDASAR sejumlah penelitian didapatkan, efektifitas pembinaan atlet pelajar berada di titik usia belasan tahun. Hal ini yang mendasari alasan tingkat pendidikan yang dibuka di Sekolah Menenangah Khusus Olahraga di Kaltim berawal dari tingkat SMP hingga SMA. "Tahap pertama pembinaan atlet dimulai dari usia 12-14 tahun atau sekitar kelas I-III SMP. Setelah itu dilanjutkan pembinaan tahap kedua usia 15-17 atau kelas I SMA sampai III SMA. Dari dua tahap itu didapati masa keemasan atlet di usia 18-23 tahun atau setingkat pendidikan perguruan tinggi. Inilah alasannya mengapa sekolah olahraga ini akan membuka kelas di tingkat SMP dan SMA," terang Masrihadi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur.
Tahap awal Sekolah Olahraga ini hanya akan menerima 100 siswa pada tahun 2010 mendatang, tiga kelas SMP dan tiga kelas SMA. Adapun cabang olahraga yang dibuka ada sekitar 20 cabor yang akan dibagi dalam dua prioritas. Priortias pertama terdiri dari angkat besi, atletik, dayung, gulat, panahan, senam, menembak, renang dan selam. Adapun prioritas kedua terdiri dari anggar, balap sepeda, bowling, bulutangkis, judo, karate, pencak silat, taekwondo, tenis meja dan wushu. "Untuk cabor priortias pertama adalah cabor yang selama ini menjadi andalan Kaltim dan juga Kaltim memiliki fasilitas latihan yang memadai untuk cabor tersebut. Sedangkan cabor kedua adalah cabor-cabor perorangan yang menjadi lumbung medali. Untuk awal kami akan prioritas ke cabor utama dahulu," tambahnya.
Bicara target, Dispora Kaltim sebagai pengelola sudah memasang sejumlah target sasaran. Berdasar kajian, siswa-siswa jebolah sekolah olahraga ini diprediksi akan berprestasi pada tahun 2014 di ajang Olimpiade Youth Games. Di kejuaraan multi event ini diharapkan siswa- siswa dari sekolah olahraga ini dapat muncul menjadi atlet masa depan Indonesia. Sasaran berikutnya adalah tahun 2016. Di tahun 2016 ini terdapat dua event target sasaran yaitu PON 2016 dan Olimpiade 2016. "Diharapkan Kaltim sudah bisa memiliki atlet-atlet berprestasi jebolan sekolah olahraga ini pada PON 2016. Selain itu mereka juga diharapkan bisa menjadi atlet nasional untuk mengikuti Olimpiade 2016," kata Masrihadi.
Menurut Masrihadi, sekolah olahraga ini tidak berhenti sampai tingkat SMA saja. Bertahap, tingkat pendidikannya akan ditingkatkan hingga perguruan tinggi dengan pendirian akademi olahraga. "Kami tidak ingin pendidikan si atlet yang sudah lulus SMA terhenti sampai di sini.
Sementara masa keemasan atlet justru saat dia berada di perguruan tinggi. Karena itu secara bertahap tingkat pendidikannya akan kami tambah hingga sampai pendirian akademi olahraga," terangnya.
Bicara kurikulum, Masrihadi mengatakan, kurikulum pendidikannya sama dengan pendidikan umum. Hanya saja waktu sekolah dan latihan akan menyesuaikan masing-masing cabor. "Kurikulumnya sama. Tapi yang beda jam sekolahnya saja. Bisa jadi jam sekolahnya siang atau malam karena paginya dipakai latihan," ujarnya. Sementara, untuk menyeimbangkan pendidikan dan prestasi olahraga si atlet, sekolah olahraga ini akan menggandeng perguruan tinggi-perguruan tinggi di Kaltim, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Dapartemen Pendidikan Nasional, Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Provinsi (Pengprov) masing-masing cabor, KNI Pusat dan KONI Daerah, serta pihak swasta sebagai bapak asuh si atlet.(reza rasyid umar)
| Reaksi: |
03 November 2009
Innalillahi Wa Innallillahi Rojiun
| Reaksi: |
22 Oktober 2009
PELATNAS KARATE DI TARIK KE JAKARTA
| Reaksi: |
Forki Sumut tangani pelatnas junior
| Forki Sumut tangani pelatnas junior |
| Sports - Lokal |
| DEDI RIONOWASPADA ONLINE MEDAN - Pengprov Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki) Sumut dipercaya PB Forki untuk menangani Pelatihan Nasional (Pelatnas) bagi Timnas karate junior Indonesia yang akan tampil pada Kejuaraan Dunia Junior/Kadet WKF 2009 di Maroko. "Kepercayaan yang diberikan PB Forki tidaik terlepas dari prestasi para karateka Sumut di Kejurnas Junior/Kadet di Bandar Lampung belum lama ini, di mana atlet Sumut berhasil menyabet tiga gelar best of the best sekaligus ranking dua nasional dalam perolehan medali," ujar Ketua Umum Pengprov Forki Sumut, DR H Rahmat Shah. Dikatakan, para atlet Sumut kini mendominasi jumlah atlet Pelatnas yang digelar di Perumahan Cemara Hijau Medan , sejak 12 Oktober lalu. "Dari delapan atlet yang dipanggil mengikuti Pelatnas, tiga di antaranya merupakan atlet Sumut dan sisanya dari Jabar, DKI, Lampung dan Sumsel," jelasnya menambahkan tiga atlet Sumut peraih gelar best of the best tersebut adalah Indah Mogia Angkat, Tiffany Hadi dan M Rizky. "PB Forki berdasarkan SK resmi yang telah diterima, juga menetapkan pelatih Sumut Delphinus Rumahorbo menangani pelatnas junior di Sumut, termasuk Sekum Pengprov Forki Sumut Zulkarnaen Purba sebagai penanggungjawab," jelasnya. Dijadwalkan tim Pelatnas setelah menjalani TC di Sumut akan bertolak ke Jakarta untuk melakukan persiapan akhir sekaligus bertolak menuju Maroko pada 12 November mendatang. Menurut Zulkarnaen, timnas karate junior itu nantinya akan mendapat polesan pelatih Kunio Kobayashi yang sengaja didatangkan dari Japan Karate Association (JKA). Pelatih yang sukses menangani karateka di sejumlah negara ini juga akan menangani tim karate Pelatda Super Prioriotas, Prioritas dan Unggulan Sumut. (dat06/wol-mdn) |
| Reaksi: |
03 Oktober 2009
KARATE INDONESIA GAGAL MEMPERSEMBAHKAN EMAS
| Karateka Indonesia Gagal Rebut Emas | ![]() | ![]() |
Samarinda, (Analisa) Dua karateka andalan tim Indonesia yakni Umar Syarif kelas +80 kg dan Donny kelas -60 kg gagal memenuhi target emas kejuaraan kejuaraan Asian Karate-Do Federation (AKF), di Guangzhou China, setelah keduanya dinyatakan kalah pada partai semifinal melawan karateka Iran dan Brunei. "Memang diluar dugaan pada babak semifinal Umar kalah atas Zabiola Poorshab dari Iran sedangkan Doni takluk melawan Muhd Fiday dari Brunei, padahal keduanya sempat unggul dalam perolehan poin," kata Madju Daryanto, ketua Binpres Federasi Karate Indonesia (FORKI) melalui pesan singkatnya, Minggu (27/9). Menurut Madju, gagalnya Umar dan Donny itu telah memupuskan harapan tim Indonesia untuk merebut medali emas AKF, karena keduanya memang menjadi andalan dari 21 karateka yang diberangkatkan mengikuti kejuaraan itu untuk mendapatkan medali emas. "Sayang memang keduanya kalah, apalagi kami menilai pertandingan tidak berjalan dengan fair dan banyak merugikan karateka Indonesia," katanya. Pihaknya sempat melayangkan protes kepada Asia Karate Federation (AKF) karena menilai wasit salah dalam memberikan keputusan pada pertandingan antara Umar Syarif dengan Zabiola Poorshab. Sayangnya protes tim Indonesia itu tidak membuahkan hasil dan justru karateka kawakan timnas itu didiskualifikasi oleh AKF. "Padahal kami punya rekaman pertandingan yang membuktikan bahwa Umar Syarif yang terkena pukulan, namun AKF tetap pada keputusannya dan menyatakan Umar terkena diskualifikasi," kata Madju kecewa. Atas keputusan AKF itu pihaknya memang tidak tinggal diam, dan akan melayangkan protes ke Word Karate Federation (WKF). "Protes ke dewan wasit AKF saya lanjutkan ke badan wasit dunia WKF. Dengan harapan WKF mengetahui tindakan wasit saat memimpin pertandingan di kejuaraan Asia di Guangzhou, China," kata Madju. Kebaikan Atlet "Hal itu adalah untuk kebaikan semua atlet yang tampil dalam kejuaraan Asia di masa mendatang. Bila tindakan berat sebelah selalu dilakukan oleh seorang wasit, maka perkembangan prestasi atlet karate Asia tidak mengalami kemajuan," katanya. Melalui surat protes yang dikirim ke WKF, katanya, diharapkan mendapat perhatian serius, meski saat protes ke dewan wasit AKF dibiarkan begitu saja tanpa ada jawaban yang pasti. Hal itu sangat mengecewakan kubu tim karate nasional saat tampil di Guangzhou. Meski di nomor beregu kumite putera Indonesia gagal melangkah ke semifinal setelah dihadang tim Jepang di pertandingan antar pool, hal itu justru membuat tim karate nasional bertambah antusias agar protes yang dikirim ke WKF mendapat perhatian. Madju berharap, usaha keras membela atletnya dapat dipenuhi dan didengar oleh WKF. Bila hal itu berjalan lancar, katanya, dapat membenahi dunia perwasitan yang ada di kawasan Asia, sebelum melangkah ke Asian Games 2010 di Guangzhou. Kendati begitu, ia tetap memberikan dorongan semangat bagi atlet yang belum bertanding agar tidak terpengaruh dengan tindakan wasit yang dilakukan pada Umar. Dengan harapan, tim karateka nasional masih mampu menyuguhkan medali bagi Merah Putih. (Ant) |
| Reaksi: |
29 September 2009
EVENT PENGPROV KKI TERBUKA

| Reaksi: |
13 September 2009
MINAL AIZIN WAL FAIZIN

| Reaksi: |
03 September 2009
TENGGARONG, JUM'AT - Proses penyidikaan kasus dugaan korupsi dana Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2006 memasuki penyerahan tahap II dari penyidik Polres Kutai Kartanegara (Kukar) ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tenggarong. Proses penyerahan tahap II rencananya akan dilakukan pekan depan.
"Berkasnya sudah P21. Pekan depan akan kami lakukan penyerahan tahap II," kata Kapolres Kukar AKBP Dono Indarto melalui Kasat Reskrim AKP Arif Budiman, Jumat (21/8). Pada penyerahan tahap II, aparat kepolisian akan menyerahkan para tersangka beserta barang buktinya ke JPU Kejari Tenggarong. Sementara, pada penyerahan tahap I, Polres Kukar menyerahkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) untuk diperiksa kelengkapannya oleh JPU.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam kasus ini, ada empat orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Keempat orang itu memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tersangka pertama berinisial RO. Ia berperan sebagai koordinator mutasi atlet.
Kemudian Sy sebagai ketua Pengcabor Wushu. Srp sebagai pengelola dana mutasi atlet karate dan ZR sebagai ketua Pengcab Olahraga Basket. Kemudian, dari perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), perbuatan para tersangka menimbulkan kerugian negara hampir mencapai Rp 7 miliar.
“RO diduga merugikan negara Rp 6 miliar lebih, Sy Rp 420 juta, ZR dan Srp sama-sama Rp 250 juta. Total kerugian negara mencapai Rp 6,9 miliar,” kata Kepala Seksi (Kasi) Kejari Tenggarong Ahmad Muhdhor. Berdasarkan hasil penyidikan Polres Kukar, keempat pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kukar itu disinyalir melakukan penyelewengan pada sejumlah item kegiatan porprov.
Dugaan penyelewengan itu meliputi mutasi atlet, pengadaan alat cabang olahraga (cabor), upah atlet, wasit dan ofisial, sewa tempat, konsumsi panitia pelaksana, mutasi atlet wushu, mutasi atlet taekwondo, mutasi atlet kempo, mutasi atlet tembak hingga latihan terpadu.
“Berdasarkan penyidikan kepolisian, ada sejumlah pembayaran atlet mutasi yang tidak sepenuhnya dibayarkan,” kata Muhdhor. Di berkas itu, tambahnya, menjelaskan kalau sejumlah atlet mutasi rata-rata dimintai tanda tangan penerimaan di kuitansi kosong dan pembayarannya dilakukan belakangan. Atlet terpaksa menandatangani kuitansi kosong itu. Sebab, kalau tidak mau, tidak akan mendapatkan bayaran sama sekali. Sedangkan modus lainnya adalah menunjuk secara langsung rekanan untuk pengadaan peralatan cabor.
| Reaksi: |



